MA Harapkan SIMSI KI Pusat Mempercepat Penyelesaian Sengketa Informasi

(ki-ka) Komisioner KI Pusat Bidang Penyelesaian Sengketa Informasi (PSI) Arif Adi Kuswadono, Wakil Ketua MA (Mahkamah Agung) Bidang Yudisial Syarifuddin, Ketua KI Pusat Gede Narayana, dan Plt Sekretaris KI Pusat Bambang Sigit Nugroho

Wakil Ketua Mahkamah Agung (MA) Bidang Yudisial Syarifuddin mengharapkan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Sengketa Informasi (SIMSI) yang di-launching Komisi Informasi (KI) Pusat dapat mempercepat penyelesain sengketa informasi di KI Pusat maupun di KI Provinsi/Kabupaten/Kota. Hal itu disampaikan Syarifuddin saat mewakili Ketua MA Hatta Ali (berhalangan hadir karena sedang umroh), pada acara launching SIMSI di Hotel Morrissey Jakarta, Kamis (02/05).
Peluncuran SIMSI versi 2.0 dilakukan oleh Ketua KI Pusat Gede Narayana bersama Staf Ahli Menteri Kominfo Gun Gun Siswadi yang mewakili Menteri Rudiantara, Komisioner KI Pusat Bidang Penyelesaian Sengkata Informasi (PSI) Arif Adi Kuswardono dan Plt Sekretaris KI Pusat Bambang Sigit Nugroho. Usai peluncuran SIMSI versi terbaru itu, KI Pusat bersama IPC (Indonesian Parliamentary Center) langsung menggelar bimbingan teknis tentang aplikasi SIMSI terhadap peserta dari KI Pusat dan KI Provinsi/Kabupaten/Kota selama tiga hari.
Lebih lanjut Syarifuddin menjelaskan bahwa pengalaman penumpukan perkara pernah dialami MA sehingga MA melakukan modernisasi penyelesaian sengketa. Dalam paparannya, Syarifuddin menyampaikan bahwa MA sempat memiliki tumpukan perkara hingga 20.825 perkara pada 2004 namun berkat modernisasi penanganan perkara menggunakan teknologi informasi maka pada 2018 hanya tersisa 906 perkara saja.
Menurutnya untuk mengatasi hambatan dan rintangan dalam penyelenggaraan peradilan adalah menjadikan modernisasi manajemen perkara sebagai agenda pembaruan peradilan untuk mencapai visi badan peradilan Indonesia yang agung (baca: court excellence) yang tertuang dalam Cetak Biru Pembaruan Peradilan 2010-2035. Modernisasi manajemen perkara ini berkaitan erat dengan pemanfaatan teknologi informasi.
Ia mengatakan, pemanfaatan teknologi informasi dalam manajemen perkara diyakini dapat membantu meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses bisnis pengadilan. Berbagai penelitian telah memberikan bukti empiris bahwa investasi di bidang teknologi informasi memberikan kontribusi terhadap kinerja dan produktivitas suatu organisasi. Dengan demikian menurutnya, penerapan teknologi informasi dapat memberikan berbagai keuntungan yaitu kecepatan (speed), konsistensi (consistency), ketepatan (precision), dan keandalan (reliability). Hal tersebut sejalan dengan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan.(Laporan: Karel Salim/Foto: Ari Wijaya)

About Author

Connect with Me:

Leave a Reply