Pemohon Harapkan Komitmen Termohon Beri Keterangan di Pengadilan Australia


Kuasa Pemohon Syarif Arsad dari kantor konsultasi hukum (Lokataru Law & Human Right Office) Markus Hadi Tanoto mengharapkan komitmen dan niat baik dari termohon dalam mendorong upaya hukum korban dari kelompok nelayan dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu disampaikan Markus kepada KI Online usai persidangan sengketa informasi dengan agenda pembacaan putusan mediasi berhasil di ruang sidang lantai 1 Kantor Sekretariat Komisi Informasi (KI) Pusat Jakarta pada Jumat (12/04).
Pada pembacaan putusan register 033/VIII/KIP-PS/2018 antara Syarif Arsad dan KBRI Canberra Australia itu, sidang dipimpin Ketua MK (Majelis Komisioner) Arif Adi Kuswardono beranggotakan Cecep Suryadi dan M Syahyan didamping Panitera Pengganti (PP) Aldi Rano Sianturi. Sidang dihadiri para pihak, baik kuasa pemohon maupun kuasa termohon.
Lebih lanjut kuasa pemohon menyatakan bahwa dalam mediasi termohon tidak memberikan dokumen berupa KK (Kartu Keluarga), Akte Kelahirn ataupun KTP (Kartu Tanda Penduduk) karena termohon tidak menguasainya. Hanya menurutnya, ada komitmen termohon untuk bersedia bersaksi pada persidangan yang dilakukan oleh pemohon berdasarkan data Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) yang diberikan kepada puluhan nelayan NTT yang dipulangkan dari Australia setelah habis masa hukumannya.
Ia mengatakan komitmen KBRI Canberra di Australia untuk memberikan keterangan nanti saat pemohon melakukan persidangan perdata di pengadilan Australia berdasarkan data SPLP merupakan hal yang sangat baik. “Kesediaan pihak KBRI Canberra untuk menjadi saksi saat gugatan hukum nanti di Australia merupakan komitmen yang sangat baik buat kami untuk memperjuangkan hak principal kami,” kata Markus.
Apalagi, memurutnya sudah gugatan dari salah satu klien dari korban nelayanan NTT yang masih dibawah umur ditahan bersama tahanan dewasa di negeri kanguru itu yang berhasil menangkan gugatan pedata. Ia mengatakan, karena berhasilan gugatan rekan nelayan tersebut maka sejumlah nelayan yang pada saa itu masih berusia rata-rata 12 tahun yang pernah dipenjara di Australia meminta bantuan hukum ke Lokataru. (Laporan : Karel Salim/Foto: Ari Wijaya)

About Author

Connect with Me:

Leave a Reply